Langsung ke konten utama

Dear Cantikku (Untuk Wanita)

#ceritahariandesy

PERINGATAN !!!!
YANG BAPER SILAHKAN BACA, KARENA TULISAN INI MEMANG DIBUAT UNTUK MENYINGGUNG BEBERAPA PIHAK.
(nyinggung doang akutuh gak ngajakin perang)

Saya ibu rumah tangga yang ingin menyapa kalian hari ini, apa kabar kalian?

Seperti biasa mungkin  yang IRT sedang bingung memikirkan menu makan besok hari, bisa pula sedang memandang segunung anak cucian yang harus selesai di kejar deadline, ada pula yang baru selesai nonton drama korea dan enggan bangkit dari posisi PW.

Ibu rumah tangga yang terlihat cuma makan tidur dan terima nafkah bulanan dari beberapa mata sinis yang memandang. Beberapa beranggapan hanya berpangku tangan dan pandai mengurus rumah, lalu giliran rumah berantakan akan di anggap istri-istri pemalas.

Ada yang di rumah saja nyambi jualan online atau kreditan toples bermerk di rumah plus ngurus anak yang lagi doyan sekali bermain dengan serakan mainan disetiap sudut rumah.

Eh iya kalian yang juga bekerja kantoran menanti akhir pekan  sambil mengenang tumpukan pakaian apek menunggu d belai pun juga tetaplah ibu rumah tangga. Tetap semangat ya mak. Walau kadang kegalauan antara rumah dan kantor selalu menghantui, omongan orang dengan nada menyidir kadang bikin gemes selalu membandingkan betapa pandainya mencari uang tapi anak terbengkalai (padahal mereka tidak tau betapa hati meringis ketika anak di hujung sambungan telepon merengek " mama kapan pulang?")

Salam super juga buat emak single parents di luar sana yang tak henti berdoa dan berjuang untuk anak-anak (spesial buat umiku tercinta, semoga lelahmu di balas dengan pahala melimpah).

Halo juga untuk para gadis muda belia yang sekarang menikmati masa lajang seraya galau dengan status jomblo ngenesnya, sabar saja insyallah dengan doa yang khusyuk akan datang lelaki shalih untukmu kelak. Tetaplah mengisi kepandaian dan perbaiki akhlak untuk mencetak generasi yang keren di masa depan. Jangan cuma main tik tik di sosmed biar hits lalu ketemu lelaki hits dan berakhir d kenyataan pahits.

Beberapa tahun terakhir para wanita cantik d negeri ini semacam digentayangi dengan istilah "pelakor" kalau tidak "teman makan teman" yang identik dengan "perselingkuhan". Ramai postingan netijen diterjen budiman tentang ini. Sebagian mencaci, sebagian ngeles (kalau di bandingkan dengan bentuk fisik), sebagian lagi ketakutan dengan penuh kekhawatiran akan sakit yang ditimbulkan.

Ada pula topik bahasan yang dari dulu sudah ada dan makin kesini gawainya makin nyaring. Ibu rumah tangga VS ibu pekerja. Selalu membandingkan diri. Misal kata beberapa IRT fullday (kayak sekolah fullday🤣😂 kalau fulltime ntar kayak kerja)

" Saya dong di rumah 24 jam mengabdi mendidik anak, melayani suami."

"Siapa bilang ibu rumah tangga ga bisa cari duit sendiri, kita dong jago jualan, penghasilan lebih gede daripada kalian yang kerja kantoran, anak pun keurus " komen ini bikin ibu pekerja nyesek. Hikks 😭

Dan kalimat lain yang seolah menyakiti wanita karir di luar sana yang menahan rindu untuk anak di rumah atau sedang menyusun menu makan seminggu untuk suami tercinta.

Lalu beberapa ibu pekerja juga tak kalah berkomentar rada pedas-pedas balado,

"Kita itu kerja bantu suami, nanti kalau sudah stabil keuangan rumah tangga juga mikir stop kerja dan ngurus anak."

"Syukurnya saya setelah sarjana dapat kerja dan Alhamdulillah seimbang rumah dan kantor, rezeki kan ga boleh di tolak."

"Saya bekerja menghargai jerih payah orang tua saya yang dulu banting tulang sampai saya sarjana."

Ada pula yang terlampau pedas (syukurnya jarang),

"Saya ga mau jadi babu di rumah, hanya mengurus dapur, kasur dan sumur. Wanita itu harus independen. Tidak terikat, punya penghasilan sendiri biar ga diinjak-injak."

Komen terakhir akan selalu menimbulkan konflik dikalangan emak emak rumah tangga yang tidak bekerja.

Jika sudah begini saat anak-anak gadis belia membaca atau mendengan komentar dua kubu ini, akan ngeri-ngeri sedap melangkah ke dunia rumah tangga (sabar ya dek, ga seserem itu kok. Syantaiii)

*****

Saya menikah muda, di usia 20 tepatnya, sempat kuliah sebentar namun terhenti karena masalah ekonomi, sempat bekerja kantoran juga di tempat yang sangat bertolak belakang yang membuat saya tidak betah, walau dari sana saya belajar dua hal yaitu betapa berat ibu pekerja yang dikejar deadline dan harus memikirkan anak  sakit di rumah, emosi emak-emak bekerja kadang berpengaruh dengan emosi di rumah, begitu sebaliknya (jadi buat kalian wanita lajang, kalau ada senior yang kelihatan kusut harap jaga jarak kalau tidak akan senggol bacok). Saya berhenti bekerja dan menerima pinangan suami terzeyeeenk.

Kebetulan pak suami kerjanya pindah-pindah dari satu kota ke kota lain dan dengan kesepakan kami yang tidak ingin hidup dua dapur alias LDR, saya mengalah berhenti bekerja. Akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga sejati.

Jadi ibu rumah tangga pun juga susah ternyata. Dari bangun sampai mau tidur lalu bangun lagi kerjaan semacam selalu ada, setelah punya anak juga harus belajar lagi. Tidak melulu kasur, dapur dan sumur, saya juga harus menyempatkan mengisi otak menambah ilmu dengan membaca dan menonton berita biar tidak terlihat bodoh dan malu-maluin di depan kolega dan rekan kerja suami, saya juga mau pengetahuan dan ilmu yang diterima pertama kali oleh anak-anak saya nanti datang dari saya ibunya. Untungnya saya hidup di era digital, jadi nambah ilmu bisa sambil masak. Belum lagi menyisihkan waktu merawat diri walau kadang mandi kilat sering terjadi, namun satu hari dalam seminggu saya minta tolong pak suami jaga anak dan waktu itu yang saya pakai buat buang daki a.k.a luluran 🤣😂 (ga perlu kesalon klo low budget, di rumah juga bisa). Olahraga untuk menjaga badan pun saya lakukan di rumah. Jadi ketika saya harus ditakdirkan bersaing dengan para pelakor yang menghantui akhir-akhir ini setidaknya saya tidak merasa bersalah, tapi lebih kepada mengasihani mereka yang dapat rongsokan dari saya (nulisnya tetep nepok jidat, ngelus perut sambil bilang "amit-amit jabang baby"). Pun alasan utama adalah untuk kepentingan saya pribadi (kan cantik kita yang nikmatin).

Tidak ada alasan untuk tidak merawat diri, serempong apapun kita. Khusus untuk para gadis rawatlah diri sejak dini dari sekarang. Bukan untuk pasangan tapi lebih kepada rasa syukur atas pemberianNya. Untuk kepuasan diri pribadi dan menghargai diri sendiri. Dengan kuatnya penghargaan diri dari kita sendiri maka akan lebih mudah untuk orang lain menghargai kita (lakukan ini jika kamu merasa direndahkan orang lain, percaya deh). Buang semua alasan badan dekil gegara ngurus anak (ngeles sesekali boleh, kalau keseringan ntar keterusan jadinya ya gitu deh).

****

" Dek, jika kamu wanita lalu menikah beberapa hal yang mungkin akan membuatmu terluka nantinya. Di tinggal mati suami, diduakan, diceraikan. Maka jangan terlampau percaya dengan makhluk siapapun itu. Percayalah pada Allah Ta'ala, mintalah hal terbaik dari semua hal baik hanya padaNya. Apapun yang d rasakan di dunia insyallah baik bagimu." Salah satu pesan abang, kakanda tercinta sebulan sebelum di panggil Sang Pencipta (titip doa ya teman-teman Rusdani Said bin Muhammad noor, terimakasih untuk yang berkenan kirim doa).

Selalu pesan itu terngiang, bukan menakut-nakuti lebih kepada mempersiapkan keimanan adik tercintanya kelak agar apapun yang terjadi hanya berharap pada yang paling Kuasa yakni Tuhan kita (semoga bisa manfaat pula bagi kalian semua).

~eh malah curhat yak, maaf🙏

****

"Eh mak tau gak, dia habis di tinggal suami makin hits deh, hati-hati loh ntar suamimu dilirik. Janda muda kan ituh." Nyinyirnya emak-emak dengan mulut macam ini. Semoga Allah melembutkan hatimu mak.

Iya, janda sering sekali jadi bahan gosip dengan tuduhan tak berdasar macam ini.

Umiku janda dengan tiga anak, usia kala itu masih 35 tahunan karena nikah muda. Saat itu begitu tegar dan kuat beliau berdiri mendampingi dan menghidupi kami. Tak sedikit pun mengeluh, walau di tengah malam buta sesekali saya melihat tetes air mata umi dalam tahajudnya dan siang hari tak luntur senyumnya menghadapi beratnya mencari nafkah.

Lahir di keluarga berkecukupan kemudian bangkrut dan menikah dengan pria mapan menjadikannya sosok istri yang manja, sampai abah sakit keras dan harus menjalani perawatan di rumah sakit dengan biaya besar menguras tabungan (syukur sekarang ada BPJSK biaya penyakit kronis sebagian besar di tanggungkan, lebih meringankan, jadi jangan melulu di hujat, namanya juga proses menuju Indonesia sehat dan lebih baik. Jadi dukung saja, yang tidak suka diam saja jika tidak bisa buat apa-apa).

Umi memulai dari titik nol, belajar mandiri dan berlari dengan tertatih membesarkan anak. Berdangang kelontongan di pasar tradisional usai shalat subuh dan pulang saat petang. Hidupnya hanya kami. Usia mudanya hanya kami jauh dari merumpi dengan teman duduk manis d cafe. Namun umi tetaplah wanita muda cantik dengan kulit putih dan bertubuh semampai.

Banyak duda kaya muda dan pak haji sepuh datang melamar kala itu, tapi ditolak mentah-mentah, alasannya takut jika menikah lagi akan lupa anak-anaknya (kalau zonk dapat duda yang numpang hidup). Banyak pula suami2 nakal yang mencoba memberi kode (wah ini apa lagi, umi bakal hempaaasss manja). Pernah kami mengurung diri di rumah dan tidak membukakan pintu tamu yang datang karena takut fitnah (ini tetap terjadi padahal umi sudah jadi nenek bercucu 5 😂🤣 mungkin umi kebanyakan mandi kembang, ampun mi bencanda🙏🙏)

Umiku yang begitu menjaga saja masih dijadikan bahan gosip dan obral cemburu buta para ibu-ibu sekampung, apa kabar kalau dia janda yang doyan kelayapan haha hihi di setiap sudut kota dan posting selfie memasang pose menggoda di akun sosmed.

Umi bukan orang berpendidikan tapi begitu apik menjaga diri dan tata krama. Ini yang membuatnya bernilai. Dia menghargai dirinya dan begitu menjaga dirinya. Membuat siapapun segan dan yang merendahkan pun semakin jengkel sebab tak di gubris.

****

Cantikku yang ada di luar sana, jangan saling meninggi apalagi merendah. Kita sama-sama wanita apapun bentuknya, pendidikannya dan status sosialnya kita tetaplah berharga.

Kita diciptakan dengan kemampuan dua tangan yang bisa mengerjakan apapun sekaligus dengan perasaan yg lebih kuat dari logika.

Kita wanita yang harusnya saling mendukung yang lainnya. Mau di rumah saja, bekerja, berdagang, mau nikah muda, mau lajang tua, janda, kaya atau miskin kita tetaplah berharga.

Jangan saling menghujat atau merendahkan satu sama lain. Buat diri kita cantik dengan menjaga diri dan menghargainya. Buat kita cantik dengan kekuatan dan kelembutan yang kita punya.

Jangan merebut dan menyakiti sesama wanita. Jangan hiri dengan kehebatan wanita lainnya, tapi jadikan motivasi agar kita bisa lebih dari dia. Karena kita bisa karena kita sama-sama berharga.

Salam hangat cantikku semoga selalu diberikan kebahagiaan melimpah, peluk hangat lewat doa dari saya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMAKASIH CINTA PERTAMA

#cerita_harian_desy
Cerita fiksi oleh Desy Faurina

Dania sedang asik menatap layar HP dan menggulirkan jemarinya sambil membaca tulisan yang diketiknya. Ini tahun ajaran baru, Dania sibuk mencatat persyaratan OSPEK, takut terlewat dia mengulang - ulang setiap persyaratan yg sudah tersimpan di catatan HP." Ribet amat sih, tinggal di foto aja apa susahnya?" Suara dari belakang membuat Dania tersentak refleks memalingkan wajah." Damar, wah masuk kampus ini juga. Beneran Damar kan?" Mencoba memastikan yang dilihatnya, tak percaya.Damar menganggukkan kepala sambil melempar senyum manisnya. Sosok pemuda  dengan perawakan tinggi, tegap, berkulit hitam manis plus senyum teramah dengan dukungan paras gantengnya. Gadis manapun akan meleleh.Dania gadis yang memiliki paras cantik dengan kulit kuning langsat ini pun membalas dengan senyum yang tak kalah manis. Damar dan Dania adalah teman SMP dan pernah 2 tahun di kelas yang sama. Mereka cukup dekat karena selalu dalam kelompok b…

MAMAHKU ANAK SOSMED (Fiksi)

"Kanaya, belikan Mamah paket data dong!!" Terdengar teriakan mamah dari luar kamar dengan suara agak mono, yg kalau dari dekat bisa memekikan tekinga."Iya mah,bentar!!!" Aku menyahut tidak kalah cempreng dengan tingkat mono sumbang.Mamah baru kenal sosial media beberapa tahun terakhir dan lagi gila-gilanya. Selalu pajang kegiatan terkininya dengan gaya super eksis.Mamah berusia 43 tahun namun dengan perawakan mungil dan masih awet muda, banyak teman-temannya bilang kalau mamah seperti 10 atau 15 tahun terlihat lebih muda. Sosok ibu tunggal pekerja keras, beliau cukup ulet setelah Papah meninggal karena serangan jantung.Beliau pegawai salah satu perusahaan swasta. Kehidupan kami cukup sederhana namun kebutuhan tidak kekurangan, ya cukuplah. Namun semenjak kecanduan Mamah dengan sosmed membuat hidup sepertinya lebih irit. Uang jajanku berkurang, makan di rumah dengan lauk alakadar, keperluan sekolah tidak lagi utama. Mungkin dananya pindah untuk baju gamis yang hampi…