Rabu, 22 Juli 2020

DARAH LEBIH KENTAL DARIPADA AIR

Entah kenapa dalam persaudaraan selalu ada saja perseteruan.

Beberapa hanya terjadi di masa kecil, namun tak sedikit yang berlangsung hingga usia dewasa.
Ada saja yang dijadikan bahan dalam berseteru.

Teramat miris hati ini jika hingga dewasa persaudaraan tak erat, hingga tampak tak saling merindukan meski berjauhan dan ada saja yang diperdebatkan saat berkumpul dalam satu waktu. 
Bukan sebab masalahnya, terlebih pada rasa tidak suka yang memang sudah terpupuk sejak dini.

Rasa pilih kasih pun salah satu pemicunya, kecemburuan dan ego ingin diperhatikan.

Berselisih, tak pernah sependapat, tak puas jika salah satu tampak bahagia.

Entah kenapa dengan kawan yang bahkan tak sedarah lebih terasa senasib sepenanggungan, ketimbang dengan saudara sekandung, sesusuan. Sedih.

Seseorang dengan usia senja dan mengalami ini pernah berkisah padaku. Ia teramat kesepian di masa tua, memiliki saudara namun di kala tua meratap dalam kesendirian.

****

Kemarin Abang dan Diding berkelahi memperebutkan sesuatu, pemicunya bukan barang terlebih perhatianku sebagai ibu mereka.

Adik berteriak mengadu, menendang Abang. Abang tak kalah emosi, balik menendang.

Tentu ini bukan pertama, ini adalah kesekian kalinya. Jika biasa Abang diminta mengalah sebagai yang lebih besar dan lebih mudah mencerna penjelasan (meski hati tak pernah terima). Kali ini aku memilih mendudukan mereka berhadapan, kemudia meminta menjelaskan apa masalahnya.

Keduanya bersikeras masing2 merasa benar dan lainnya salah.

Tak selesai....

Kemudian Diding memukul Abang dengan sangat keras, dan dibalas.

Akhirnya, aku duduk di tengah.
"Abang, Diding, kalau tak ada yang mau mengalah dan masih saling berbalas pukul, silahkan saling pukul dengan keras, jika Abang pukul sekali, Diding boleh pukul sekali. Jika Abang pukul paha Diding balas di paha. Jangan memukul kepala. Silahkan saling pukul hingga salah satu menyerah!"

Diding memukul sangat keras, Abang membalas keras, kemudian Diding menangis, namun sambil memukul dengan lebih keras, begitu sebaliknya dan sukses membuat Abang yang emosi berkaca menahan tangis.

Semakin sering berbalas pukul, entah kenapa pukulan satu sama lain semakin terasa pelan. Mereka memukul sambil menatap muka satu sama lain yang kini rautnya berubah, dari berselimut amarah kemudian tersirat kesedihan, kasihan dan menyesal.

Abang berhenti membalas pukulan, meski Diding memukul dengan pelan beberapa kali.
Kemudian Diding memeluk Abang.
Abang membalas peluk Diding diiringi kalimat, "Maaf Fatih, Abang jahat."
Diding yang sesegukan, melepas pelukan kemudian 'salim' mencium tangan Abang, "Maaf Abang, Atih nakal."

Kemudian aku memeluk keduanya bersamaan tanpa berkata apapun.

Caraku mungkin tak bijak, tak pula baik. Namun, aku hanya ingin mereka paham kondisiku sebagai ibu, menghadapi konflik, kerewelan atau polah mereka tak selalu dapat ku tanggapi dengan tenang apalagi senang, aku bisa emosi, aku juga bisa membentak, aku bisa memgomel sepanjang rel kereta saat itu terjadi.

Dengan menghadapkan satu sama lain, aku ingin mereka belajar cara menyelesaikan konflik mereka sendiri, menyelesaikan semua emosi yang kuharap bisa ditinggalkan hanya pada masa kecil ini.

Aku ingin kelak mereka paham jika semua manusia memiliki masalah dan cara penyelesaian yang tak selalu sesuai dengan ekpektasi mereka. 

Inilah caraku berenang dalam konflik persaudaraan. Tentu tak semua sepaham atau mengamini ini, namun setidaknya beginilah akhirnya meminimalkan konflik Abang dan Diding. Abang menjadi kakak penyayang dan Diding pun menjadi adik yang kemudian menghormati kakaknya.

"Nak, Bunda berharap kalian menyayangi dan menghargai satu sama lain, ingatlah jika darah lebih kental dari air. Semoga kalianpun mengerti jika aku bukan ibu bijak yang bisa selalu dengan sempurna mengurus kalian, sebab aku cuma manusia yang masih terus belajar menjadi ibu yang baik, setidaknya di mata kalian. Terimakasih Keenan dan Fatih, sejauh ini telah menjadi anak yang membanggakan untukku yang nista ilmu dalam membesarkan kalian."

Jika kelak tulisan ini masih dapat kalian baca, dimanapun kalian berada, sesulit apapun masalah hidup yang sedang kalian hadapi, semoga peluk dan doaku dari dekat maupun di kejauhan, akan menjadi penguat kalian dan pengingat jika kalian tak sendiri. Ini dariku, yang begitu mencintai kalian❤️❤️❤️

Sabtu, 11 Juli 2020

PESAN MAAF DARI BUNDA (Tumbuh Kembang)


Masa menyenangkan melihatmu tumbuh menjadi semakin besar dan pintar. Dari bayi mungil, kemudian tiarap, merangkak, berdiri, melangkah berjalan dan berlari.
.
Masa ini juga membuatku terkadang menjadi sosok ibu yang rendah diri, terlebih jika tumbuh kembangmu tak secepat anak seusiamu.
.
Ini adalah masa emas. Namun aku kadang melewatkannya, bersama setumpuk pekerjaan yang harus kuselesaikan. Di masa ini aku juga sering bersedih hati sebab sesekali disalahkan, ada lebam biru di dahimu, luka lecet di lututmu atau saat tangan kakimu terkilir, buah hasil belum stabilnya gerakanmu. 
Namun bahagiaku adalah betapa sering aku bisa memelukmu kala itu. 
Pertumbuhanmu memang tak semenakjubkan anak lain, namun bunda tetaplah sangat bersyukur kau menjadi anak sehat. Pada fase ini, Bunda mendapat pertanyaan kenapa kamu belum begini, kenapa kamu belum bisa ini atau itu. Meski mencoba menutup telinga, namun aku tidak baik-baik saja. Benak ini sesekali ikut bertanya "Iya ya, kenapa?", tanpa sadar Bunda menjadi ibu  yang akhirnya membandingkan anak satu dan lainnya, tanpa sadar ada ambisi untuk mendorong kamu menjadi seperti anak lainnya, salahnya aku tanpa sadar menjadi terlalu kuat mendorongmu untuk seperti yang lain.
.
Ambisi Bunda semakin berapi dan hatiku teramat kesal saat dorongan, tekanan, pertanyaan mengapa kamu belum bisa ini dan itu datang dari keluarga terdekat.
.
Hingga pada suatu saat Bunda tersadarkan, ada kelebihan yang kamu miliki dan anak lain belum punya. Ada sesuatu yang kamu kuasai dan anak lain belum bisa. Ternyata setiap anak itu berbeda, mereka memiliki kelebihan masing-masing. 
.
Bunda, hanya ibu yang meresapi ilmu lewat teori parenting dan kadang luput dalam menerapkan. Sering lupa harus apa saat terdesak dengan banyak tuntutan.
.
Bunda pernah mendengar, jika setiap ibu selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Bunda pun demikian. Meski ternyata itu juga untuk kebaikanku, itulah kenapa aku kadang tampak egois dan banyak mengatur. 
.
"Nak, terimakasih sudah tumbuh menjadi luar biasa. Maafkan aku di masa lalu yang kadang hanya bisa menuntut kamu harus cepat bisa, namun tak tau harus mengajarkan seperti apa."

#Pesanmaafdaribunda
#CurhatanMamahDedes

Jumat, 10 Juli 2020

PESAN MAAF DARI BUNDA (pasca melahirkan)


Hari ini kamu bertanya tentang bekas luka sayatan yang ada di perutku. 
"Bekas apakah itu Bunda?"
Aku mencoba menjelaskan apa itu dan kenapa.
.
Kamu berkata, "Pasti banyak darahnya ya? Aku tau itu pasti sangat menyakitkan." sembari mengelus dan meniup bekas luka itu dengan tatapan hangat. Ya Allah, sudah besar kamu Nak. πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯°
.
Terkenang masa itu....
.
Usai melewati fase hamil yang begitu berat, fase selanjutnya adalah melahirkan. Melahirkan secara normal maupun lewat operasi sama-sama menyakitkan dan sangat butuh perjuangan. Resiko yang sama dengan 2 kemungkinan yang sama, selamat atau tidak.
.
Jika dulu, atau sekarang masih ada perbandingan bagaimana seorang wanita melahirkan, aku sebagi wanita bisa dengan sangat kasar mengatakan kalian 'hanya manusia kolot yang bodoh'. Apapun caranya tetaplah tidak menghapus predikat 'Ibu'. Apapun cara melahirkan, kalian wanita luar biasa. Pun untuk kalian yang berjuang, dan harus gugur di tengah jalan, kalian tetaplah ibu, ibu istimewa.
.
Seingatku, saat hamil itu berat secara fisik, namun pasca melahirkan itu lelah dan berat secara fisik maupun mental.
.
Aku yang tak berilmu apalagi pengalaman, menahan perih luka bekas lahiran dan perihnya payudara demi tetesan ASI. Tidur yang tak seberapa dan kelelahan luar biasa. Belum lagi kalimat komentar yang mungkin niatnya memotivasi dengan rasa penyampaian menyakitkan hati.
.
"Masa gendong bayi aja belum bisa."
.
"Aku dulu anak 3, baru lahiran langsung masak nyuci, ngurus anak dan suami sendiri. Padahal jahitan juga belum kering tapi bisa aja kok."
.
"Kok gendutan banget ibunya, bayinya padahal kecil aja."
.
Dan masih banyak komentar lainnya....
.
Belum lagi dibeberapa daerah yang masih sangat saklek aturan. 
Sebelum 40 hari belum boleh kemana-mana.
Makan masih dengan ikan gabus bakar/rebus tanpa bumbu.
Dicekoki berbagai jamu agar kembali singset dan bisa kembali menyenangkan suami.
Dilarang tidur di bawah jam 12 siang, padahal usai terjaga semalam suntuk.
Masih banyak lagi, kalian ada yang begini?
.
Lelah, tertekan, bosan sangat rentan bagi ibu pasca melahirkan. Hormon yang berubah memicu mood yang tidak stabil. Beruntung jika tak sampai alami Baby Blues.
.
Membagi kesulitan akan dibilang mengeluh dan ada ketakutan dianggap tak becus.
.
Yang diperlukan dari semua proses ini adalah dukungan, pengajaran dengan contoh yang baik dan bantuan, terutama dari suami.
.
"Nak, jika nanti jika ada teman, kerabat atau mungkin istrimu baru saja melahirkan, tolong jangan pernah komentar tentang fisiknya, anaknya, proses melahirkan atau bagaimana caranya belajar mengurus bayi. Beri mereka pujian, pelukan dan dukungan meski hanya lewat kata."

Kamis, 09 Juli 2020

PESAN MAAF DARI BUNDA (Kehamilan)

Semenjak menjadi penjual daster di akun 
Instagram @dasterzulaikha (males nautin link), 
aku mendapatkan banyak pembelajaran dari banyak cerita pembeli, terutama tentang masa kehamilan. Masa suka cita bagi banyak wanita, sekaligus masa terberat yang harus dijalani.

Mulai dengan masa deg-degan menunggu hasil yang keluar dari testpack hingga berita fix dari dokter kandungan.

Kemudian masa ngidam di trimester pertama, masa yang tak selalu sama pada setiap ibu hamil. Ada yang sulit makan, ada yang cerewet makan, ada yang uring-uringan efek samping dari tak nyamannya rasa tubuh dengan berbagai penyesuaian baru. Ada juga yang malas mandi, susah masak karena pusing/mual mencium aroma bumbu. Kadang, mereka yang tidak mengerti, menganggap yang dialami ibu hamil hanya tingkah manja atau kelebayan saja. Sekali lagi, masa kehamilan tiap wanita itu berbeda-beda tantangannya.

Kemudian memasuki trimester kedua. Sensasi sering bolak-balik BAK, rasa begah di perut dan sensasi tendangan kecil yang mulai membuat mood bumil mulai membaik namun jadi cepat lelah.

Trimester ketiga yang semakin mendekati masa kelahiran akan mengalami susah tidur. Aku mengalami dua kali kehamilan dan saat semakin dekat masa lahiran, akan semakin susah tidur, janin yang membesar mulai berat dan sesekali dada serasa sesak.

Yang paling sering saya dengar dari keresahan ibu hamil adalah kenaikan berat badan yang tentu signifikan, tampilan kulit yang berubah menghitam, muka berjerawat dan stretch mark (gurat peregangan) yang muncul di mana-mana. Kemudian dengan mudahnya orang berkomentar cenderung mengarah pada Body Shaming.

Inilah yang harus dihadapi ibu hamil.
Lalu salahkan ibu hamil mengeluh?

Manusiawi. 

Akupun sesekali mengeluh, menangis, gampang emosi dengan mood yang turun naik, rasa tidak nyaman yang menimbulkan efek rasa menderita muncul bergantian.

"Nak, inilah masa kehamilanku saat mengandungmu. Aku teramat sangat kewalahan, dengan melalui banyak perubahan dan penyesuaian. Namun egois ingin berontak dengan banyak keluh itu selalu sukses terobati dan terhapus, saat kamu sesekali menendang dari dalam. Seolah saat itu kamu sedang menyampaikan 'tidak apa Bunda, aku akan jadi anak baik dan akan begitu menyayangimu'. Saat itu aku mendapat semangat. Senyumku mengembang di tengah isak tangis beratnya aku mengandungmu. Maaf jika sesekali itu menjadi keluh, bukan karena aku tidak bahagia ada kamu di janinku, terlebih aku sedang merasakan perjuanganku untuk menghadirkanmu ke dunia ini."

Ada ribuan rasa dari kehamilan. Ada bahagia sekaligus derita. Inilah kenapa setiap doa dari mereka yang mengandung sangat mudah terijabah.

Kemudian, untuk para suami. Pahamilah keluh istri bukan berarti keluh sebab protes dengan keadaan, istrimu hanya sedang mengalami beban berat dari banyak perbedaan dalam dirinya. Dengarkan dan peluk dia untuk menguatkan. 

Juga untuk kalian yang selalu berkomentar "tidak perlu", lebih baik diam dan doakan ibu hamil agar sehat hingga selesai persalinan. 
Mental mereka yang hamil harus tetap waras, agar bisa menularkan hal positif pada janin.

Terakhir ingin kusampaikan.... 

Terimakasih anakku sudah terlahir untukku.

Terimakasih Umi, kau ibu yang sudah susah payah melahirkan dan merawatku.

Untukmu yang masih berjuang dalam mendapatkan keturunan, selalu kupanjat doa. Jangan lelah, jangan sedih dan jangan merasa kurang. Sebab kamu tidak pernah tau, mungkin hati dan sikapmu lebih keibuan dari kami yang telah menjadi ibu. Hanya saja, Tuhan sedang memintamu untuk lebih dekat dengan banyak meminta kepadaNya.

Selasa, 01 Oktober 2019

PELEPAS MUMET (THE POWER OF EMAK-EMAK MENULIS)

Kabut embun pagi masih nampak enggan pergi dari hamparan ilalang di belakang pekarangan rumahku. Sementara isi rumah sudah penuh kebisingan. Mulai dari suara teko pertanda air mendidih, kerusuhan pak suami yang kesulitan mencari pasangan kaos kaki atau tangisan balita yang baru beranjak bangun dari tidur mencari inangnya.

Kokok ayam bagaikan nyanyian merdu, menemani aku yang sibuk dengan wajan penggorengan menyiapkan nasi goreng kesukaan untuk pengganjal perut pagi ini. Ini ceritaku hampir di setiap pagi. Menyenangkan untuk wanita yang sedari dini bercita menjadi ibu rumah tangga dengan predikat bintang lima paripurna. Namun, bisa jadi kegiatan ini berubah jadi kerusuhan, ini kalau emak-emak berdaster cantik begadang nonton drama negeri gingseng dan bangun kesiangan.

Mengapa tidak ingin jadi ibu pekerja? Nanti kita cerita dilain waktu (modus biar banyak visitor blog😅). Hanya saja, jika boleh sebut salah satu alasannya adalah, aku ingin melihat anak-anakku tumbuh tanpa terlewat satu momen pun.

Dulu ku pikir, ah gampang lah jadi ibu rumah tangga. Ngurus rumah, anak dan suami. Ternyata eh ternyata, alamaaaaakk, kerjaan tak berujung. Tak pernah ada kata selesai. Makanya mungkin ibu di rumah saja bisa dapat pahala besar, asal ikhlas dan meniatkannya karena Allah Taala.

Diantara rasa bahagia dan menyenangkan mengurus keluarga, pun kadang dihinggapi rasa penat, mumet, semaput, lelah batin dan jasmani atau kesal. Biasa terjadi kala tamu bulanan sedang bertandang atau akhir bulan dengan isi dompet menipis, bisa juga pas kebetulan buah hati tercinta sedang rewel berkepanjangan dan emak tak tau formula jitu untuk bisa menenangkan.

Jika sudah muncul indikasi rasa gundah gulana, sepinya malam adalah sahabat terbaik untuk me time. Aku bisa melepas penat, melakukan kegemaran semacam nonton, baca buku dan kalau hati sesak menulis adalah pilihan (tentu selain ibadah yak mak).

Menulis semacam media penumpah segala rasa, selain sesak di dada, rasa bahagia pun bisa kita bagi lewat tulisan. Sebuah cerita sedih, bahagia dan mumet seolah menjadi pelepas stress. Menulis membuat jiwa kelana seolah sedang melakukan perjalanan panjang, entah napak tilas pada kenangan lalu atau membuat alur langkah baru untuk mimpi dan tunjan kedepan.

Suka menulis pernah membuatku bermimpi untuk serius menjadi penulis buku. Rasa ini tenggelam di antara besarnya rasa tak percaya diri. Akhirnya, jadilah blog ini sebagai media berbagi tulisan receh milikku, mana tau dari sekian cerita bisa jadi hal baik bagi pembaca.

Story instagram dan dinding facebook juga sering menjadi coretan untuk beberapa narasi fiksi, hasil dari perjalanan hayalku yang meluap menuntut diceritakan. ( Jangan lupa follow desyfaurina yak!!)

Jika di tanya adakah kendala menulis, kujawab belum. Karena, karena sampai hari ini emak-emak ini hanya suka bercerita. Lebih nikmat begini, ketimbang curhat tak jelas dengan biang gosip lalu dijadikannya bahan gibah satu RT, lebih asik begini daripada ikut menggibah orang, cekikikan bergosip ria di pelataran tetangga bergumul dengan emak-emak lainnya. Sungguh tidak produktif dan unfaedah kata kids jaman now.

Inilah pelepas mumetku, media muhasabah diriku, caraku berbagi manfaat untuk orang sekitar dan kesenanganku menghabiskan waktu. Menulis dan membuat sebuah cerita. Entah cerita sedih meringis atau cerita bahagia yang bikin hati berwarna.

Pun kalian memiliki kecintaan yang sama, maka teruslah menulis, jangan berhenti bercerita. Karena tidak pernah ada yang tau, setiap kalimat yang lahir dari jemari indah itu bisa menjadi vitamin manfaat dalam hidup orang lain.

#ceritahariandesy

#nulisyuk #belajarmenulis #nulisyukbatch37

Jumat, 30 Agustus 2019

Daster Lusuh


#ceritahariandesy

Aku ibu rumah tangga.
Kerjaannya nyap-nyap. Kalau tidak ngobrol berarti makan.

Begitu pikir sebagian orang. Atau sekedar pikirku dalam berasumsi untuk pendapat orang lain yang hanya saya terka?

***

"Akutuh kadang mider mak, biasa ngemong anak di rumah, masak ama nyuci. Tetiba dapat undangan suruh ngisi acara  gini. Haduuuh buat apa???" Tetanggaku Nia berujar demikian saat di ajak untuk menjadi salah satu pengisi acara seminar tentang kewanitaan di daerahku.

Latar belakang pendidikannya yang seorang sarjana dengan nilai memuaskan dan sekarang mengikuti suami merantau jauh dari kampung halaman. Mengurus anak di rumah dan menjadi ibu rumah tangga full time. Memiliki ilmu yang begitu luas karena hobinya melahap segala jenis genre buku. Karena inilah saat acara itu diadakan aku sebagai salah satu anggota panitia berniat menjadikannya sebagai narasumber untuk berbagi kisah, hanya sharing bagaimana dia beradaptasi di perantauan.

Namun dari sini aku tau, ilmu yang luas dan kemampuan yang mumpuni namun saat tidak lagi di gunakan akan membuat semuanya tenggelam perlahan.

Nia pelan-pelan minder dengan statusnya. Bukan karena tidak mampu, lebih kepada memulai lagi aktivitas yang lama tidak dilakukan akan menjadikannya canggung. Seperti burung yang sudah lama tak terbang, tau cara mengepakkan sayap namun ragu apakah masih bisa menggapai angkasa.

"Ih bisa dong, kamu itu pernah berpengalaman dibidang ini, tinggal dijalankan saja lagi. Apalagi pengetahuanmu dan pengalaman kamu menjadi perantauan banyak. Bismillah, yuk bagi cerita, mana tau manfaat buat ibu muda lainnya." Aku mencoba meyakinkan.

"Aduh apa yang mau dishare toh mak? Aku cuma di rumah, ga jauh dari popok bayi sama tungku masak. Nggak ada yang spesial." Nia masih ragu.

"Nah justru itu, cara kamu menghadapi penyesuaian dan membuat kamu bahagia itu apa. Cuma ceritain pengalaman aja." Kukuh aku membangkitkan rasa
percaya dirinya.

"Oke deh, nanti tak pikirkan lagi. Kukabarin lagi lusa ya!?"

Nia pulang dan berpikir.

***
"Kita ni apa, cuma ibu rumah tangga. Mentok di rumah nonton drama." Celetuk Maya kala mampir ke rumah di sore akhir pekan.

"Yah kan ibu rumah tangga juga bisa produktif, bisa jualan online, bisa belajar online bersertifikat juga trus ilmunya buat diterapkan sama anak-anak, nulis cerita, bikin resep masakan baru atau bikin kue rumahan trus bisa dijual lagi, yang punya kemampuan ngajar bisa buka les. Banyak loh." Jawabku.

"Mana waktunya mak, ngemong anak sama beberes rumah aja nggak pernah kelar. Merem tidur pas malam aja masih kepotong melekan ganti popok anak atau nyusuin. Enak kali ya, bisa kerja kantoran. Honoran juga nggak apa deh, lumayan kan ijazah kepake dan hasilnya bantu suami?" Maya mulai berandai-andai.

" Nah yang ku bilang tadi jualan itu nggak ngasilin uang? Kalau kerja gimana anakmu?? "

Maya terdiam dan tersenyum sesaat kemudian.

***
Beberapa kali berbincang dengan para ibu rumah tangga muda. Mereka minder, merasa diri kurang berharga. Kenapa???

Semua wanita itu sama, semua ibu itu sama. Mau bekerja kantoran atau memilih di rumah. Hanya bukan berarti menjadi alasan pembanding status atau kehebatan kan?

Marry Riana seorang motivator muda pernah berkata, " Wanita sejati tidak dinilai dari profesinya, tapi bagaimana dia bisa menjadi versi terbaik dirinya."

Sebelumnya saya juga pernah bercerita tentang semua wanita itu berharga namun tidak bisa menjadi sempurna. Wanita itu luar biasa.

Banyak wanita di luar sana yang gamang, apa yang akan terjadi ketika menjadi ibu rumah tangga, ketika dirasa tidak bekerja, tidak menjadi apa-apa.

Beberapa wanita juga gengsi dengan status sarjana tidak sukses menjadi wanita karir, hanya berkutat di rumah bersama daster lusuh kebanggaan.

Tau kenapa begitu????
Karena pandangan kalian
Karena komentar kalian
Karena asumsi kalian yang tidak sedikit masih menganggap ibu rumah tangga cuma makhluk yang berpangku tangan menunggu nafkah.
Tidak sedikit dari kalian yang berkomentar sungguh sayang wanita-wanita berpendidikan terkungkung dan berkutat dengan dapur, sumur dan kasur.
Belum lagi
Banyak para suami yang tutup mata. Mengatakan istrinya paling dicinta namun sekedar membantu pekerjaan rumah begitu gengsi. Tidak sedikit suami yang lupa membanggakan istri. Hampir punah suami yang melempar pujian kecil agar istri tetap merasa percaya diri.

Dan...

Untuk kalian wanita yang sekarang sedang menyandang status ibu rumah tangga. Jangan merasa tersisih, minder, rendah diri, jangan merasa tidak memiliki kemampuan dan kebiasaan apapun. Sekarang berdirilah setegap mungkin, kenali diri dan gali harta karun yang selama ini terpendam dalam diri, setiap dari kita pasti memiliki sesuatu, jika sudah menemukannya asah itu untuk dijadikan senjata sejuta manfaat, untuk diri kita, keluarga kecil kita dan orang lain. Jadikan hidup kita jauh lebih produktif dari sekarang. Tunjukan jika di rumah pun kita bisa bermanfaat, jika di rumah pun kita bisa sukses. Sukses paling kecil dari setiap wanita adalah benar-benar bisa membuat dirinya berharga.

Salam hangat dari emak berdaster si ibu tumah tangga bahagia🤗

Rabu, 21 Agustus 2019

Cemburu Bikin Senang Hati


#ceritahariandesy

"Okehhh bayi-bayi, mari kita bobok siang!!!!" Emak berseru mengumpulkan anak-anak yang asik nonton tv.

"Siiiaaaappp!!" Diding dan abang lari masuk kamar dengan sukarela dan senang hati. Sebab tau betul jika tak diindahkan setelah panggilan kedua aura emak bisa berubah jadi abu-abu kelam, jadilah momen bobok siang berubah horor, sebelum itu terjadi mereka memilih cari aman.

Siap rebahan pada posisi masing-masing. Diding di kiri, emak di tengah, abang di kanan. Siap dengan bantal guling masing-masing dan mepet ketek emak sebagai aroma terapi pengantar bobok.

"Huuuuaaaaaaaaaaahhh!!!!" Diding nangis kejer. Emak kira kejepit atau ketindih, secara emak lagi agak bengkakkan badannya.

"Kenapa ding?" Emak abang serempak nanya.

"Abaaaang tuuuh, Icuuuu bundakuuuuuuuuu!!!!" Diding bangkit dari kasur sambil nunjuk tangan abang yang melingkar manja di badan emak.

"Aiiishhh, diding. Ini tuh bundanya samaan!!!" Abang paham maksud diding dan memberikan perlawanan dengan suara tak kalah hectic.

"Ga auuuuu, huaaaaaaahhhhh!!" Diding bersikeras tetap mau meluk dengan kemaruk.

Emak diem di tengah semerawutnya suasana kala itu. Senyam-senyum dalam hati bergelitik terlanjur ge'er.

Aiiih, beginilah rasanya direbutkan dua lelaki yang sedang egois ingin memiliki. Untung anak, kalau gebetan kan berabe.πŸ˜…πŸ˜‚πŸ€£

"Gini, gimana kalau diding peluk setengah trus abang setengah." Emak memberikan saran.

"Ga auuuuuuu!" Diding tetep kekeh kemaruk.

"Diding ih, itu kan bundaku juga. Samaan, peluk sama-sama!" Abang mempertahankan.

"Huaaaaaaaaaah!!!!" Diding ngamuk sambil mukul tangan abang yang masih nemplok di emak.

Abang tak membalas mencoba berlindung di belakang emak, diding makin anarkis.

"Okeeehhh, bunda bobok siang di kasur bawah aja, diding sama abang bobok berdua sambil pelukan!" Emak melempar gagasan tanpa opsi kali ini.

"Ga mauuuuu!" Kakak beradik menolak kompak.

"Nah kalau gitu peluk samaan, diding setengah abang setengah. Ayuk ah bobok, baca doa lanjut merem!" Emak memberi titah dengan oktaf yang mulai naik tanda mengancam. πŸ˜ˆπŸ‘Ώ

Anak-anak manut, mengangkat tangan berdoa dan melipir mepet ke ketek emak dengan tangan melingkar memeluk manja, tentu bersama-sama. Karena mereka hafal apa yang akan terjadi setelahnya jika perseteruan tentang cemburu masih berlanjut.

Emak tak kalah siap untuk terlelap dengan hati masih berbunga. Senangnya bobok siang berselimut rasa cemburu. Jika kata afgan cemburu itu menguras hati, bukan denganku kali ini, cemburuku begitu bikin senang hati.

Ini ceritaku, emak-emak dasteran yang lagi dalam pelukan hangat para pria kesayangan. Udahan dulu ah emak mau bobok siang, peluk online semua πŸ€—

DARAH LEBIH KENTAL DARIPADA AIR

Entah kenapa dalam persaudaraan selalu ada saja perseteruan. Beberapa hanya terjadi di masa kecil, namun tak sedikit yang berlan...